Feeds:
Pos
Komentar

A Letter from Tentena


Saluopa Waterfall

Saluopa Waterfall

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamu pasti tak terlalu peduli jika aku bercerita air terjun Saluopa ini memiliki dua belas tingkat. Ya, dua belas, menakjubkan bukan? Tapi aku tahu hanya aku yang takjub dengan fakta ini, tidak denganmu. Air mukamu akan tetap datar, bahkan ketika aku mengarang cerita bahwa air terjun ini memiliki ratusan tingkat. Kamu, berbeda denganku, memang bukan orang yang mudah takjub. Tapi aku tak pernah keberatan dengan muka tanpa ekspresimu itu. Aku tahu:

kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta | Soe Hok Gie

Sekian waktu bersamamu membuatku tahu bahwa sebenarnya otakmu merekam dengan baik setiap ocehan panjang lebarku yang tampak tak penting untukmu. Tak jarang kamu tak menatap wajahku ketika bercerita ini itu. Tapi di lain waktu, kamu bisa persis mengulang ceritaku, bahkan lebih baik. Itulah yang membuatku tetap senang hati menceritakan ini padamu. Kamu mungkin hanya akan diam, atau kadang mengembangkan senyum yang tetap menyembunyikan gigi manismu. Diammu tak berarti acuh, kamu hanya sedang menyusun komentar filosofismu dalam hati. Biasanya aku akan berpura-pura merajuk manja karena kau tampak tak mendengarkan cerita, padahal aku hanya menunggumu mengungkapkan tanggapanmu yang tak biasa.

Mata kita menyaksikan pemandangan yang sama: fotofoto perjalanan yang ku kirimkan padamu. Tapi komentarmu berikutnya adalah gagasan yang tak terbayangkan olehku sebelumnya: Hidup seperti air di sungai. Ia tak pernah melewati tempat yang sama dua kali, selalu menemui hal baru. Air akan terus mengalir, tanpa pernah khawatir dengan apa yang dihadapinya: bebatuan, akar pohon, lembahlembah curam. Hidup hanya butuh kesediaan kita untuk terus mengalir, mencintai setiap kenyataan yang ada, dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Apa adanya. Dan lihatlah, ketika air tetap tulus menuruni lembahlembah curam  dan bebatuan berkalikali. Tampak indah, bukan? Begitulah air, terus tulus mengalir sampai ke tempat ia akan bermuara: samudera.

 all rivers flow to the sea | Paulo Coelho

***

Mengapai pantai selalu di pinggir laut? tanyamu suatu ketika. Aku kembali teringat pertanyaan itu ketika berada di pantai di tepi Danau Poso. Ya, pantai di pinggir danau. Aku akan bersemangat menceritakan ini padamu, sambil membuktikan bahwa retorika dalam pertanyaanmu itu keliru. Danau terbesar ke tiga di Indonesia ini memiliki pantai, lengkap dengan pasirnya. Pantai, bukan hanya milik laut. Aku bangga karena akan tampak lebih pintar darimu ketika menceritakan ini, hal yang jarang terjadi. Mungkin kebanggaanku akan dengan mudah kau runtuhkan dengan satu atau dua bantahan. Wawasan luas membuatmu tak mudah terlihat salah. Kau memang piawai berkelit, pintar dan licik. Tapi, aku bahagia bisa bercerita denganmu, bersama mengunjungi tempat baru melalui mataku. Menyenangkan bisa mengingatmu ketika berada di tempat baru. Seperti saat ini, berada di tepi danau ini membuatku teringat ketika kita samasama duduk di tepi danau, tiga hari sebelum kepindahanku ke Sulawesi.

Poso Lake

Poso Lake

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita duduk berdua, tanpa banyak berkatakata. Kafka on the Shore tak lepas dari genggamanmu. Matamu khusyuk menyusuri setiap baris cerita di buku itu, sesekali beralih memandang danau di depanmu, dan melempar senyum ke arahku yang sedang memainkan sudoku di ponselku. Kita terbiasa seperti itu, berdua, bersama, bahagia meski tanpa katakata. Sebenarnya saat itu agak berbeda, aku menyimpan keresahan tentang kita, kegundahan tentang bagaimana kita akan menjalani kehidupan di pulau yang berbeda. Tapi aku tak ingin merusak kebahagiaanmu dengan menanyaimu ini itu. Saat membaca Murakami, kamu seperti tenggelam di duniamu sendiri. Aku bahagia menyaksikan kebahagiaanmu. Saat seperti itu, bentuk perhatian terbaikku adalah mendiamkanmu, membiarkanmu menikmati kecemerlangan kata Murakami serta keindahan bahasa angin yang menyapu permukaan danau. Keresahan itu aku biarkan sampai kepadamu tanpa katakata.

banyak hal mampu disembunyikan oleh kata, tapi dapat disaksikan lewat mata

Dan benar, tak lama setelah itu kamu pun menutup Kafka on the Shore dan memasukkannya bersama dengan kacamata merah jambumu ke dalam tas mungil yang selalu menyertai ke mana pun kamu pergi. ”Danau itu seperti kamu”, itu kalimat pertama kita sejak sampai di tepi danau itu, dua jam yang lalu. Danau itu tenang dan menenangkan, tanpa banyak riak dan gelombang. Seperti sikap diam yang meneduhkan. Cinta tak membutuhkan banyak kata.

sebab cinta, adalah pembuktian katakata | Agus Noor

Tentena Sky

Tentena Sky

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemudian kamu merebahkan dirimu di atas rerumputan. Pandanganmu lurus ke atas. ”Lihat awan itu”. Aku berbaring dan memandang  arakarakan awan yang kamu maksud. Setelah menghela napas, kamu pun memulai cerita: Awan itu, bukan hanya tampak jauh, tapi juga terlihat berbeda dengan danau ini. Tapi ingatlah, awan, seperti halnya danau ini, sebenarnya adalah air.

 remember, clouds, like the river, are water | Manuel Bandeira

Akan ada waktunya, matahari mengevaporasi air danau ini dan membuatnya menjadi bagian dari awan. Akan ada waktunya juga, uap air di atmosfer mengalami kondensasi dan kembali ke danau ini melalui hujan. Semua ada waktunya. Untuk bisa mengalahkan jarak dan perbedaan, kita hanya perlu setia kepada waktu. Menjalani dan menikmati setiap waktu tanpa kekhawatiran. Karena kekhawatiran tidak pernah memberi jawaban bagaimana esok berlangsung, ia hanya membuat kita tidak menikmati hari ini.

Sekarang, aku menikmati berada di tepi danau ini dan mengingatmu, yang entah sedang apa ribuan kilometer di sana.

 

Iklan